<$BlogRSDUrl$>

Thursday, September 16, 2004

Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin
" Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam "


edodgreen@yahoo.com

THE END

Saturday, October 18, 2003

Tetesan Air Mata

Pernah menangis? Pasti pernah ya, paling tidak sekali
seumur hidup kita pasti menangis, yaitu saat dilahirkan.
Saat itu uraian tetesan air di sudut mata menjadi kebahagiaan orang-orang yang mengasihi kita.
Lalu, apakah air mata itu identik dengan kelemahan,bahkan kecengengan? Mungkin iya, tapi mungkin jugatidak.
Air mata bisa juga menjadi berharga atau malah tidak berharga lho.

Seseorang lelaki yang sesenggukan karena kekasihnya telah pergi meninggalkan dirinya, bisa jadi air mata saat itu tidak berharga sama sekali.
Demikian juga uraian air mata seorang wanita yang 'mengorbankan
harga dirinya' kepada Arjuna, Sang Pemetik Cinta,justru pada saat cinta mereka sebenarnya belum diikat dengan ikatan suci, maka saat itu air mata hanyalah kesia-siaan.

Namun air mata juga bisa menjadi sangat berharga,bahkan sangat berharga.
Di dunia, sebagai contoh, airmata bisa menjadi tema tulisan yang laku dijual dan menjadi tema yang tak pernah henti-hentinya mengalir ke benak banyak penulis.

Pernah tahu buku-buku yang pernah laris di Jepang?
Diantara buku-buku terlaris itu adalah "Gotan Fumanzoku", karya autobiografis Hirotada Ototake,seorang pria yang lahir tanpa kaki dan tangan namun tetap bersemangat dalam hidupnya, menamatkan studinya
di Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita olahraga di televisi.

Ada pula buku yang lain, yaitu "Dakara Anata mo Ikinuite", sebuah autobiografi Mitsuyo Ohira, seorang wanita yang menjadi sasaran olok-olok ketika duduk disekolah menengah.
Ohira san pernah mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai, namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan kini menjadi pengacara.
Kisah-kisah haru seperti ini dan menguras air mata juga banyak diminati masyarakat pembaca diJepang.

Air mata memang ibarat hujan yang jatuh dari langit pada lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang.
Ia bisa melunakkan hati dan jiwa yang keras membatu, perlahan lunak dan menjadi peka terhadaplingkungan sosial.

Dalam Islam, air mata sangat berharga nilainya saat penyesalan, kerinduan pada manusia-manusia yang
tawadhu'. Menyiram kegersangan taman hati dan jiwa,
serta qalbu yang gersang dengan berbagai nista hingga
perlahan pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa
arus oleh butiran-butiran do'a yang dimunajatkan
kepada-Nya.

Mahal... sungguh sangat mahal harganya tetesan air
mata yang mengalir saat khusuk menghadap-Nya, bahkan salah satu dari dua tetesan yang disukai Rasulullah SAW adalah air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah SWT. Beliau, kekasih Allah, merengguk, menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya.
Abu Bakar ash-Shidiq r.a.pun senantiasa sesegukan ketika menegakkan sholat.

Seorang mujahid serta sekaligus mujaddid yang pernah
hidup di dunia ini, Hasan al Banna juga pernah
menguraikan air matanya karena memikirkan ummat ini.
Betapa sang mujahid menginginkan agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri,
sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh
kalian.
Betapa bangganya beliau ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi
harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam. Rasa cinta yang
mengharu-biru hati, menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga membuat beliau memeras air matanya.
Air mata yang mengalir karena menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada keputusasaan.

Lalu, bagaimanakah dengan kita?
Takkala kita lahir menangis, namun orang-orang di sekeliling kita tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita.
Namun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu saat kita tutup usia, saat itu apakah kita juga turut
menangis ataukah tertawa bahagia karena akan berjumpa dengan Allah SWT?
Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia yang singkat ini?
Adakah prestasi kita hanya lahir, hidup,mati, kemudian dilupakan orang, bahkan olehorang-orang terdekat kita?
Lalu setelah itu pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.

Ya akhi wa ukhti fillah,
Semoga Allah SWT menjadikan air mata yang jatuh di
sudut-sudut mata kita adalah air mata yang berharga
dipandangan-Nya, hingga dapat membersihkan hati yang pekat ini untuk mudah disusupi cahaya Ilahi Rabbi.
Semoga air mata ini kelak tidak menjadi tetesan darah
karena letihnya kita berteriak dan mengetuk pintu
surga yang telah tertutup rapat setelah pengadilan itu
nanti.

Sungguh, tetesan air mata di dunia ini adalah lebih
baik bagi kita ketimbang menangis di akhirat nanti,
menangislah sebelum datang hari dimana kita semua akan ditangisi, karena itu pasti terjadi.

Ya Allah, yang manusia harus takuti Angkatlah kami
dari lembah maksiat Sampai kami keluar dari dunia Tak bawa beban walau sebesar zarah.
[Air Mata: from Izzatul Islam]
Author: Abu Aufa
Tidak Ada Istri yang Ideal

Seorang teman ketika masih single mempunyai cita-cita kelak memiliki seorang istri yang kutilangdasi: kuning, tinggi, langsing, dan (maaf) dada berisi, juga berotak cemerlang dan bermoral yang baik.
Bertahun-tahun ia mencari calon istri yang ideal menurut pandangannya. Tetapi selalu kandas di tengah jalan karena wanita yang ia temui tidak sesuai dengan idealismenya.
Begitu bertemu dengan seorang wanita, ada saja kekurangannya.
Konon, jika distatistik,lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya.

Ketika usia teman saya sudah mencapai angka tiga puluh lima, sedikit demi sedikit gambaran istri yang ideal mulai luntur.
Ia merasakan betapa sulitnya mencari istri yang ideal.
Istri yang sesuai dengan kriterianya.
Akhirnya ia menikah dengan seorang wanita yang jauh dari sosok istri
yang ideal.
Istrinya memang kuning, tapi tidak tinggi, tidak langsing, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang karena ia gemuk.
Otaknya juga tidak cemerlang, meski tidak begitu bodoh.
Tapi moralnya baik.

Kalau saya terus memburu istri yang ideal menurut kacamata saya,mungkin saya tidak akan menikah,kata teman saya suatu ketika tanpa ditanya.

Tampaknya gambaran istri yang ideal, adalah istri yang sempurna; fisik, kepribadian, dan keterampilan.
Dan gambaran itu tidak hanya menjadi keinginan teman saya.
Hampir setiap lelaki yang normal (termasuk saya), pasti mengharapkan istri yang ideal. Istri yang sempurna.
Istri yang tidak mengecewakan. Istilah populernya, istri yang
tidak malu-maluin jika dibawa kondangan, yang terampil di dapur, dan berakhlak mulia.

Keinginan untuk memperoleh istri yang ideal bukan hanya semata-mata karena kebutuhan pribadi akan istri yang sempurna lahir batin tetapi juga ingin, ingin dipuji oleh orang lain.
Dengan banyak pujian, hati akan merasa bangga.
Dada dibusungkan. Ya, ada unsur sombong.

Terlebih-lebih jika membaca novel picisan atau menyaksikan sinetron yang ditayangkan televisi-televisi swasta kita.
Betapa hebatnya sosok istri: kaya, cantik, cerdas, sepertinya tanpa cacat sedikit pun.
Sehingga tidak mengherankan, jika kaum lelaki juga terobsesi untuk mendapatkan istri yang ideal, istri yang sempurna lahir batin.

Sayangnya, seperti teman saya, jarang sekali orang yang dapat menemukan istri yang persis sama dengan yang diharapkan.
Separuh atau seperempat saja dari kriteria ideal yang dapat ditemukan pada sang istri, itu sudah sangat bagus.
Bahkan, bisa jadi,tidak satu pun kriteteria ideal itu ada pada
sang istri.
Dan, betul juga pendapat teman saya di atas,
kalau terus memburu istri yang ideal, mungkin bisa menjadi lelaki yang tak laku-laku.
Karena entah kapan dapat kita temukan.
Sementara waktu terus memburu kita yang berarti usia terus bertambang. Itu sama saja kita semakin tua.
Tentu saja, kondisi kita semakin menurun.
Kalaupun ada wanita yang ideal, mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Jadi, sama saja kita tak dapat memiliki wanita itu untuk menjadi istri kita.

***

Sering kaum lelaki mengomentari pasangan yang dianggap tidak ideal. Misalnya ketika ada pasangan yang wanitanya sangat cantik, sementara lelakinya biasa-biasa saja,muncullah kelakar dan komentar,Wah, bagi si
lelaki, sih, anugerah, tapi bagi wanitanya itu,musibah,atau komentar-komentar lain yang pada hakikatnya ada rasa cemburu, rasa iri melihat kebahagiaan orang lain.
Bisa jadi karena pelampiasan sebab istri sendiri ternyata tidak ideal. Padahal, kita belum tahu, apakah pasangan yang kita komentari itu bahagia atau tidak.
Jangan-jangan hanya bahagia secara lahiriah.
Batiniahnya tidak bahagia.
Atau kedua-duanya, ya lahiriah, ya batiniah tidak bahagia.

Walaupun istri yang kita dapat tidak sesuai dengan yang kita idam-idamkan, bukan berarti kita harus kecewa berkepanjangan.
Bahkan sampai stres.
Apalagi sampai menyesali diri. Meratapi nasib yang kita anggap sial.
Sebab, bagaimanapun juga, jodoh, rezeki, dan kematian sudah ada yang mengatur.
Semua sudah menjadi suratan.
Sudah menjadi takdir yang tidak bisa dibantah.
Pada akhirnya kita hanya pasrah.
Ya, manusia berusaha, tapi Allahlah yang menentukan segalanya.
Sebab, Dialah yang Maha Kuasa.
Dan kita harus yakin, bahwa pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik buat kita.
Hanya saja kita tidak mengetahuinya.

Kita memang harus legawa menerima istri kita yang memang sudah menjadi jodoh kita.
Dengan perasaan itu, maka semua yang kita kerjakan menjadi lebih enjoy. Tidak ada yang mengganjal dalam pikiran kita.
Kita harus menerima istri kita apa adanya.
Menerima seutuhnya. Ya kekurangannya, ya kelebihannya.
Manusia memang selalu diberi kekurangan di samping kelebihan.
Hanya saja, kita terkadang hanya melihat kekurangannya saja.
Sementara kelebihan yang ada pada seseorang, termasuk istri kita, jarang kita perhatikan.
Atau tepatnya tidak pernah kita perhitungkan.
Kita sendiri sebenarnya juga memiliki kekurangan, baik kita sadari maupun tidak.
Manusia memang tidak ada yang sempurna.

Ya, harus kita sadari dan camkan dalam hati bahwa di dunia ini memang tidak ada istri yang ideal.
Dengan kesadaran seperti itu, maka kita bisa menerima istri kita dengan
perasaan cinta dan kasih sayang.
Tak ada lagi penyesalan.

Author:Drs. Widi Purwanto, Guru SLTPN 3 Purwonegoro
sumber : ummigroup.co.id/ummi

Tuesday, September 09, 2003

SPEAKLESS
By Reza Syarief

Orang bijak berkata, tuhan memberi kita dua mata, dua telinga dan satu mulut. Artinya, kemampuan mendengar dan melihat kita dua kali lebih penting ketimbang kemampuan berbicara.
Suatu kali saya bertemu seorang klien yang teramat sibuk. Dalam kesempatan emas itu sengaja saya hanya mendengar dan mendengar. Hanya sesekali saya timpali dengan sedikit kata-kata. Sebelum sempat menjelaskan program saya, tiba –tiba yang bersangkutan memutuskan untuk bertransaksi.
Ternyata pameo seorang ( bunga, nanti aza yang disambung mau makan siang dulu ) super seller haruslah jago berbicara tidak sepenuhnya benar. Malah sukses menjual lebih serimg ditentukan oleh kesanggupan seseorang mengendalikan emosi untuk hanya bicara pada situasi dan kondisi yang tepat. Kalimat-kalimat yang berbobot sekalipun menjadi tidak bernilai pada timing yang kurang pas.
Disisi lain, pengeluaran energi untuk mendengar dan melihat lebih sedikit daripada berbicara. Tapi anehnya, orang lebih memilih banyak bicara. Pernah seorang manager perusahaan consumer goods multinasional merasa tidak betah lagi dikantornya hanya karena atasannya tidak pernah mau mendengar bawahannya. Berbeda dengan satu perusahaan PMA jepang dimana setiap masukan dari karyawan selalu didengar edan bahkan bila dianggap layak akan diapresiasikan dengan imbalan bonus diluar gaji.
Ada beberapa tingkatan mendengar. Pertama, “mendengar selektif “ yaitu hanya mendengar topik yang menarik. Kedua, “mendengar simpati” yaitu dengan melibatkan emosi dan perasaan terhadap pemasalahan yang didengar. Ketiga, “mendengar empati” yaitu mendengar dan kemudian memberikan penilaian dan solusi.
Untuk tahap ketiga ini tidaklah mudah karena kita akan dihadapkan pada kokohnya tembok “aku”. Bukanlah aku lebih berpengalaman daripadanya, bukanlah aku lebih berpendidikan daripadanya, bukankah aku dalah pimpinan sedang mereka bawahan. Bukankah….sederetan kata Bukankah “aku” lebih ini dan itu senantiasa mendorong kita untuk asyiik mendengarkan diri sendiri ketimbang orang lain.
Rasanya paradigma NATO ( No Action Talk Only ) perlu kita ubah menjadi paradigma PAKTAWARASAWA ( Please Allowing your Knowledge Turn to Act by a WAReness of what you see and What you hear ). Dengan paradigma ini akan muncul sikap: bukaknkah setiap orang mempunyai kelebihan khas yang tidak dimiliki orang lain? Bukankah saya mempunyai kekurangan, bukankah saya tidak serba tahu, bukankah setiap orang ingin selalu didengar ?
Jika anda berminat untuk bergabung dengan kelompok PAKTAWARSAWA, saya mempunyai beberapa tips. Pertama, jangalah sekali-kali menerapkan strategi close defense system, tapi gunakanlah open defense system .
Orang dengan system pertahanan tertutup akan sulit menerima saran apalagi kritik orang lain. Kedua, apabila Anda ingin menyampaikan sebuah gagasan kepada orang lain, alangkah baiknya jika dimulai dengan mengamati dan mendengar apa yang menjadi kebutuhan lawan bicara Anda, baru kemudiaan kita meluncurkan peluru (baca: kata-kata) kita secara jitu. Ini yang saya sebut gaya bicara sniper style .
Seorang penembak jitu tidak pernah boros peluru. Ia akan hanya menenbak jika sasaranya sudah terbidik tepat. Sebaliknya gaya bicara mitraliur style menimbulkan rasa kesal para bawahan lantaran pimpinan selalu mendominasi pembicaraan. Atau, bisa juga membuat dongkol konsumen akibat terlalu over bombardiran product knowledge. Padahal boleh jadi satu dua kalimat yang jitu sudah menggiring mereka dalam proses pengambilan keputusan.
Selanjutnya hindarilah cara wrestler (pegulat) ala Smack Down dalam menghadapi kritik. Cara ini hanya akan menambah rasa tidak nyaman bicara anda. Karena setiap feed back yang muncul selalu anda tanggapi secara emosial dan negatif thinking sehingga memicu anda untuk secepat mungkin membalas pukulan kritik mereka dengan tangkisan atau pukulan apologetik (pembelaan diri).
Akan lebih bijaksana bila dihadapi dengan pendekatan Aikido. Dalam filosofi olahraga beladiri Aikido, tidak dikenal kata balas atau tangkis secara konfrontatif, tapi yang ada pemanfaatan kekuatan lawan. Sehingga, ketika seorang konsumen menghujani anda dengan serentetan complain atau kritik, itu artinya sama dengan mereka berbicara pada diri mereka sendiri.
Last but not least, mana yang lebih menguntungkan bagi anda: menjadi pengamat yang baik atau pendengar yang baik selamat bergabung dengan PAKTAWARSAWA.


KEPADAMU
by Helvy Tiana R

Ketika bahasa tak lagi percaya pada kata
apakah yang masih bisa kita ucap?
: cinta
ketika wajahmu tak lagi menampakkan
kening, mata, hidung dan mulut
apakah yang masih bisa kukecup?
: doa


SAJADAH PANJANG
by Taufik Ismail

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ketepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Diatas sajadah yang panjang ini

Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.


I love those who reach for the imposible
Aku menyukai mereka yang berusaha mencapai yang tidak mungkin


Experience is a hard teacher because she gives the test first, the lesson afterwards
Pengalaman adalah pelajaran yang berat karena ia memberikan tesnya terlebih dahulu dan pelajarannya kemudian

If you can dream it, you can do it
Jika Anda dapat memimpikannya, anda dapat melakukannya.

Berikut naskah juara satu lomba menulis surat untuk presiden kategori kelas 1-3 SD dalam rangka Hari Anak 2003

Kepada Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia Megawati
di Istana

Assalamualaikum
Ibu mega, apa kabar? Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini. Ibu, dikelas badanku paling tinggi. Cita-citaku juga tinggi. Aku mau jadi presiden. Tapi baik, Presiden yang pintar, bisa buat komputer sendiri. Yang tegas sekali. Bisa bicara 10 bahasa, Presiden yang dicintai orang-orang. Kalau meninggal masuk surga.
Ibu saying
Bunda pernah cerita tentang Umar sahabat Nabi Muhammad. Dia itu pemimpin. Umar suka jalan-jalan ketempat yang banyak orang miskinnya. Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu umar. Soalnya Umar menyamar. Umar juga tidak bawa pengawal. Umar jaditahu kalau ada orang kesusahan di negeri dia. Bisa cepat menolong.
Kalau jadi presiden, aku juga mau seperti Umar. Tapi masih lama sekali. Harus sudah tua dan kalau dipilih orang. Jadi aku mengirim surat ini mau mengajak ibu menyamar. Malam-malam kita bisa pergi, bisa pergi ketempat yang banyak orang miskinnya. Pakai baju robek dan jelek. Muka dibuat kotor. Kita dengar kesussahan rakyat. Terus kita tolong.
Tapi ibu jangan bawa pengawal. Jangan bilang-bilang. Kita tidak usah pergi jauh-jauh. Di dekat rumahku banyak anak jalanan. Mereka mengamen dan mengemis. Tidak ada bapak-ibunya. Terus banyak orang jahat minta duit dari anak-anak kecil. Kasihan.
Ibu Presiden, kalau mau, Ibu balas surat aku ya. Jangan ketahuan pengawal nanti ibu tidak boleh pergi. Aku yang jaga supaya ibu tidak diganggu orang. Ibu jangan takut. Presiden kan punya baju tidak mempan peluru. Ada kan seperti di film? Pakai aja. Ibu juga bisa kurus kalau jalan kaki. Tapi tidak apa Sehat.
Jadi ibu bisa kenal dengan orang-orang miskin di negara Indonesia. Bisa tahu sendiri tidak usah tunggu laporan karena sering ada korupsi.
Sudah dulu ya. Ibu jangan marah ya. Kalau tidak senang aku jangan dipenjara ya. Terima kasih.

Dari Abdurrahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung, Jakarta Timur


U A N G L O G A M
Author : Irfan Toni H

Suatu ketika ada seorang anak menemukan sekeping uang logam. Dia sangat senang sekali dengan apa yang ditemukannya. Dia mendapatkan uang tanpa harus mengeluarkan tenaga. Tanpa bersusah payah dia dapat membeli apa yang diinginkannya dengan uang yang ditemukannya itu. Lalu dia berpikir untuk melakukan pekerjaan ini sampai sore nanti. Dia lalu menghabiskan hari itu dengan kepala menunduk, mata terbuka lebar, dan meneliti setiap pojok jalan dengan seksama.
Ya , anak itu melakukan kegiatan itu samapi akhir masa kanak-kanaknya. Dia memang menemukan banyak sekali uang dengan cara itu. Ada ratusan uang receh, puluhan uang kertas, beberapa perhiasan, sebuah liontin, dan banyak benda berharga lainnya yang dapat ditukarkan dengan uang dan mainan.
Memang ia mendapatkan uang dengan cara ini. Namun, agaknya, dia melupakan banyak hal. Dia telah kehilangan ratusan kehangatan pagi dan indahnya embun didedaunan. Dia juga melewatkan ratusan pelangi yang kerap hadir diaatas awan sebab, kepalanya selalu tertunduk kebawah. Dia juga tak sempat untuk meyaksikan ribuan fajar dan ribuan senja.
Dia tak pernah menyaksikan burung-burung yang terbang diangkasa dan bercericit diatas pohon-pohon. Dia melewatkan banyak sekali layang-layang yang berkejaran di langit dan meliuk-liukan badanya seperti camar yang membentuk susunan-susunan formasi indah. Dia tak sempat merasakan harumnya bunga-bunga ditaman dan tawa riang teman-temanya yang sedang bermain.
Dia tak pernah menemukan senyum hangat setiap orang yang berpapasan dengannya. Dia melewatkan tawa renyah dari kakek yang bertongkat dan selalu mengelus setiap anak yang ditemuinya. Dia tak pernah merasakan itu semua. Burung yang bertebangan, matahari yang bersinar, dan senyuman itu, bukanlah bagian dari ingatan masa kecilnya.
Teman, begitulah hidup. Kita bisa memilih hidup kita dengan kepala tertunduk, pikiran dipenuhi dengan nafsu kekayaan, dan enggan berurusan dengan orang lain. Kita juga bisa memilih hidup dengan penuh ketakutan, takut kehilangan setiap uang logam, takut akan kritik dan saran, takut pada setiap hal baru yang hadir didepan mata. Kita bisa memilih untuk terpaku pada satu hal, hanya memikirkan diri sendiri.
Ya, kita memang bisa memilih itu semua. Namun, teman, kita juga bisa memilih untuk hidup dengan selalu memandang kedepan dan pantang menyerah. Kita juga bisa memilih untuk merasakan semua nikmat Allah dan menjadi bagian dari kehangatan persahabatan dan senyuman. Kita juga bisa memilih untuk hidup dan berusaha untuk merasakan semua tawa, semua keharuman bunga, dan keindahan fajar dean mentari senja. Ya, kita memang bisa memilih hidup kita


P a t a h
Author: Abu Aufa
(In collaboration with Kelik, ikhwah KAMMI-Jepang)

Dunia serasa kiamat, langit runtuh, dan bumi amblas
kalau patah hati. Kata Arjuna Si Pencari Cinta, hidup
tanpa cinta si doi bagaikan malam tanpa bintang, cinta
tanpa sambut bagai panas tanpa hujan. Hidup terasa
hampa, kosong dan gamang. Lagu cintapun berubah
menjadi lagu patah hati, 'Patah hatiku jadinya /
Merana berputus asa / Merindukan dikau yang tiada /
Terbayang setiap masa', hiks... hiks... hiks... sedih
syekalee...

Hidup emang kadang tak seindah puisi, ataupun syair
romantis dalam lagu-lagu cinta. Kesedihan, kegundahan
serta isak tangis juga salah satu mata rantai
kehidupan yang mungkin saja terjadi. Hati yang ingin
merajut masa depan bersama, retak dan hancur menjadi
serpihan, laksana butir pasir tersapu gelombang
pantai.

Emang, perpisahan dan penolakan dengan apapun
alasannya akan membuat hati ini terluka, walaupun
dengan kata-kata lembut terucap. "Bukan nolak sih,
tapi saya bukan yang terbaik untukmu," atau "Hm...
ntar deh pikir-pikir dulu." Kalo ditanya, "Berapa lama
mikirnya?" "Ntar ya sampe' purnama menyinari siang."
Yee... itu namanya ditolak lagi ! Tapi herannya kok ya
masih diharap, seakan seribu pengganti tiada serupa
dengan si doi. Gedubrak !!!

Kalo lantas sedih, airmata menggenang di kelopak mata,
meluk bantal sambil sesenggukan berhari-hari, mikir
'pingin bunuh diri tapi takut mati' mungkin masih
mendingan, lha... kalo beneran? Jatuh cinta emang suka
bikin masalah ya? Katanya, kalau berani jatuh cinta
harus siap patah hati. Namun gak lantas semua seperti
itu, karena ada juga cinta yang selalu terbalaskan,
yaitu cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam, dan juga cinta
suami istri, suami mencintai istri, istri pun
mencintai suami.

Katanya sih waktu yang akan menyembuhkan, namun
panjang atau pendek emang tergantung dari kekuatan
iman. Bukan lantas 'cinta ditolak mbah dukun
bertindak' atau 'khitbah ditolak murobbi dipecat'.
Seorang sahabat Nabi, Bilal ketika ia bersama Abu
Ruwaihah hendak meminang, beliau berkata, "Saya ini
Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang,
dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah
memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian
kemudian Allah memerdekakan. Jika pinangan kami
diterima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah dan
kalau ditolak maka kami mengucapkan Allahu Akbar."

Gitu tuh contoh dari seorang Bilal bin Rabah, karena
itu beliau termasuk salah satu sahabat yang dijamin
masuk surga. Masa' sih baru sekali khitbah ditolak,
lalu mendadak jadi pujangga "Jodoh engkau dimana,
lelah hatiku mencarimu, alangkah tragisnya hidupku,
derita tanpa ujung" Piye toh mas-mas...

Bunuh diri -apalagi karena patah hati- itu bukan
ajaran Islam. Bahkan, Rasulullah Sallallaahu Alayhi
Wasallam pernah bersabda, "Barangsiapa menjatuhkan
diri dari atas gunung kemudian bunuh diri, maka dia
berada di neraka, dia akan menjatuhkan diri ke dalam
neraka untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa minum
racun kemudian bunuh diri, maka racunnya itu berada di
tangannya kemudian minum di neraka jahanam untuk
selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan alat
tajam, maka alat tajamnya itu di tangannya akan
menusuk dia di neraka jahanam untuk selama-lamanya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Seorang ulama Dr. Yusuf Qardhawi pun pernah mengatakan
bahwa kehidupan manusia bukan menjadi hak milik
pribadi, sebab dia tidak dapat membuat diri, anggota
atau sel-selnya. Karena hakekat diri ini hanyalah
sebuah titipan yang diberikan Allah Subhanahu wa
Ta'ala, maka tidak boleh diabaikan, dimusuhi apalagi
melepaskannya dari kehidupan.

Biasanya, seseorang melakukan bunuh diri karena
keadaan yang sangat tertekan, atau terbelit depresi,
sering menangis, murung, impulsif, menganiaya diri
sendiri atau merasa kesepian, termasuk ciri-cirinya.
Mas Kelik, mahasiswa pasca sarjana Division of
Behavioral Science, Chiba University-Japan, mengatakan
peran keluarga sebagai pengikat hubungan hati sangat
berpengaruh dalam pola pikir seseorang. Pada saat
ikatan ini telah hilang, maka kelompok-kelompok
pergaulan menjadi sebuah pelarian, sebagai usaha untuk
menemukan jati diri mereka. Akhirnya terbentuklah akar
pola tingkah laku dari sosialisasi tersebut. Apa yang
ada pada kelompok tersebut laksana suatu 'kebenaran'
yang tak dapat diganggu-gugat. Saat 'kebenaran'
menyatakan bahwa solusi dari depresi -salah satunya
karena patah hati- adalah bunuh diri, maka itulah yang
dilakukan.

Jadi kesimpulannya, 'bunuh diri siapa (gak) takut?'
Dunia ini tidaklah selebar daun kelor, apa yang
menurut pandangan kita baik belum tentu dipandangan
Sang Pemilik Jiwa pun baik, demikian juga sebaliknya.
Bunuh diri yang mungkin dipandang sebagai suatu
'pembenaran' ternyata di pandangan Allah Subhanahu wa
Ta'ala pelakunya akan ditempatkan di neraka jahanam.
Padankah diri ini dengan saudara-saudara kita di
Palestina yang telah mempersembahkan jiwa, kerelaan
serta keikhlasan hati mereka untuk menggetarkan
musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan menjual
dirinya demi keinginan memeluk kesyahidan? Sungguh...
sungguh amat berbeda orang yang membunuh dirinya untuk
kepentingan pribadi, dengan pejuang-pejuang untuk
kemuliaan Islam. Bahkan shuhadaa' ini janganlah
disangka mati, mereka itu hidup di sisi-Nya dengan
mendapat rezeki [Al Imran 3:169].

Akhi wa ukhti fillah,
Daripada menyesali sesuatu yang telah terjadi, lebih
baik isi hidup ini dengan gerak langkah serta helaan
nafas ibadah kepada-Nya. Masih banyak yang lebih
menderita dari kita, dan tak terhitung anugerah yang
telah dan yang akan Ia berikan kepada kita, karena itu
jauhi bunuh diri. Sayangi jiwa, kalaulah goresan itu
pernah menyayat hati balurlah dengan tausyiah Illahi.

Bukankah hidup ini pun masih indah dengan banyak
sahabat-sahabat tercinta, orangtua terkasih yang
selalu melimpahkan sayang tanpa ujung kepada kita dan
Sang Pemilik Jiwa yang penuh dengan cintanya. Serta
masih banyak kebaikan yang bisa kita lakukan kepada
orang lain hingga kita tiba pada umur yang emang telah
ditentukan-Nya, bukankah sebaik-baiknya manusia adalah
yang bermanfaat untuk orang lain? Manfaatkan umur yang
sedikit ini, masih banyak kewajiban di depan mata yang
belum terselesaikan, dan itu lebih sangat berharga
daripada hanya merenung serta menyesali diri, seperti
pesan Hasan Al Banna, "The duty is more than time that
we have."


*kyou ga totemo kanashikute / asu moshi mo naite ite
mo
sonna hibi ga atta ne to / waraeru hi ga kuru darou
Hari ini sangatlah menyedihkan / Dan, kalaupun besok
aku menangis
Suatu waktu akan tiba saatnya aku dapat tertawa / Dan
mengenangkan waktu yang telah kita lalui bersama
(Notes: Kutipan lirik ini diambil dari sebuah lagu
yang berjudul Seasons-Hamasaki Ayumi, pernah populer
di Jepang karena (konon) liriknya yang memberikan
motivasi kepada orang-orang Jepang untuk menghargai
kehidupan)

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang beralaskan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

Friday, August 15, 2003

Cinta bisa menembus ruang waktu, tidak mengenal pamrih dan
selalu ada keinginan untuk memaafkan.. Cinta membuat orang
selalu semangat dan percaya diri untuk melangkah..
Cinta makhluk tidak bisa dinafikan adalah anugerah dari
Sang Pencipta, maka seberapa besarkah cinta kita
kepada-Nya ???

Cerita di bawah ini diforward oleh seorang teman,
sumbernya tidak dicantumkan tapi mungkin cara sang suami
dalam mengejawantahkan cintanya bisa dijadikan pelajaran
oleh kita semua. Hanya Allah Yang Menggerakkan Cinta...

INILAH CINTA....

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika
wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih
itu dengan hati-hati menaiki tangga.
Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi,
Dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi
dikatakan kosong oleh si sopir.
Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan
tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta.
Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya
dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah,
frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri.

Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk
oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan
kemampuan, merasa tak berdaya dan menjadi beban bagi
semua orang disekelilingnya.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia
bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi.
betapapun seringnya ia menangis atau menggerutu atau
berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu,
penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu
optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan
perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi.
Dia menjadi sangat bergantung pada Mark,suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara.
Dia mencintai Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia
melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan.
Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali
kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan
untuk menjadi mandiri lagi.
Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai
situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.

Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi,
bagaimana dia akan bisa ke kantornya?
Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke
kota sendirian.
Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari,
meskipun tempat kerja mereka terletak dipinggir kota yang berseberangan.

Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan
Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta,
yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling
sederhana sekalipun.
Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru,
membuat mereka terburu-buru,dan terlalu mahal.
Susan harus belajar naik bus lagi,
Mark menyimpulkan dalam hati. tetapi, baru berpikir
untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah
membuatnya merasa tidak enak.

Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah.
Bagaimana reaksinya nanti?
Persis seperti dugaan Mark,
Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi.
"Aku buta!" tujasnya dengan pahit.
"Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi?
Aku merasa kau akan meninggalkanku"
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama
Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan
bisa pergi sendiri.

Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark,
menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke
dan dari tempat kerja, setiap hari.
Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada indranya yang
lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan
sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya.
Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas dilorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama -
sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal.
Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri.
Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark.
Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis ... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna.
Belum pernah Susan merasa sepuas itu.
Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :
"wah, aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir,
"Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?"
Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti
itu". Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu.
Sekali lagi dia bertanya."Apa maksudmu?" Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus.
Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk kekantormu.
Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung". kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan.
Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa
memastikan kehadirannya.
Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang
jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.

Author: Abu Aufa

Sunday, August 10, 2003

PASIR DAN BATU

Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.
Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk dibelakang. Membentuk kurva yang berujung disetiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang berterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.
Tiba-tiba badai datang. hembusannya membuat tubuh pengembara itu limbung. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam dipasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.
Badai reda. Tapi, musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. "Ah..,tamat riwayat kita," kata seorang diantara mereka, kita sebut aja pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. "kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami ditempat ini ."
Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase dikejauhan. "kita selamat," seru salah seorang diantara mereka. "lihat, ada air disana."
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air.
Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat diatas sebuah batu. "kami bahagia". Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini. "itu kalimat yang dipahatnya.
Pengembara kedua heran. "mengapa kini engkau menulis diatas batu, sementara tadi kau menulis dipasir ?"
Yang ditanya tersenyum. "saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu dipasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus, "jawabnya dengan bahasa puitis. "namun ingatlah saat kita memperoleh kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu dibatu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu dikerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan."
Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istrahatpun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan air yang bertiup mengiringi.
Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan dipasir agar angin keikhlasan membawanya pergi ? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan ?
Teman, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagian yang kita miliki. Simpanlah semua itu didalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehlah kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.
( Irfan TH )

Saturday, August 09, 2003

CERITA SEORANG ANAK YATIM PIATU SELEPAS PESTA ULANG TAHUN TETANGGANYA

I
Seminggu lalu datanglah
Untuk kami anak-anak penghuni Panti Asuhan,
Diantarkan seorang ibu dan anak gadisnya .
Sekolahnya kira-kira di SMU
Mereka naik Corolla biru
Dari pakaian, cara bicara dan perilaku
Kelihatan tamu itu orang gedongan
Golongan yang hidup lebih dari kecukupan
Mereka mengundang anak-anak panti asuhan
Untuk ikut acara ulang tahun
Rebo jam tujuh malam
Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan
Berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama
Jalan kaki bersama, karena jaraknya Cuma terpisah sepuluh
rumah saja
Rombongan disilakan masuk dengan ramah
Dan anak-anak berusaha duduk dibelakang-belakang saja
Tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya
Para remaja belasan tahun
Mereka sehat-sehat, harum-harum
Berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya
Saya berjuang melawan sikap minder saya
Duduk ditengah ruang tamu yang luas

Di atas karpet bersila, pegal dan canggung
Di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan
Di bawah lampu kristal bergelantungan
Tapi alangkah aku jadi heran
Tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
Tidak ada tepik tangan mengiringi
Lagu Hepi-Besde-tuyu
Hepi-Bisde-Tuyu

II
Menurut kakak pembawa acara
Kita selama ini Cuma jadi kawanan burung kakak tua
Burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika
Dalam acara ulang tahun kita
Lalu seorang remaja membaca Surah Luqman
Dengan suara amat merdunya
Dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
Yang berkilauan di kalung di leher pendengarnya
Kemudian yang berulang tahun
Berpidato sangat mengharukan
“Dalam acara seperti ini
Bukan saya yang jadi pusat perhatian
Diperingati atau dihargai
Tapi mama kita
Ya, ibunda kita
Ibunda kita
Dan ayahanda.

Peristiwa aneh yang terjadi
Dia memberi hadiah pada ibunya
Ini ganjil dan melawan arus
Karena biasanya anak-anak gedongan itu
Menunutut kado mahal dari ibu-bapaknya
Pada peringatan hari jadi mereka

Selanjutnya dia katakana lagi
“Hadiah paling saya harapkan dari kalian
Adalah doa bersama
Seusudah hamdalah dan salawat
Karena saya ingin jadi anak yang baik laku
Jadi perhiasan dileher ibuku
Jadi penyenang hati ayahku
Rukun dengan kakak-kakak dan adik-adikku
Bertegur sapa dengan semua tetangga.

III
Dalam acara makan kunikmati nasi
Beras Rajalele yang putih gurih
Dendeng tipis balado, ikan emas panggang
Dan udang goring, besar dan gemuk-gemuk
Belum pernah aku memegang udang sebesar itu
Di asrama ikan asi dan tempe
Seperti nyanyian yang nyaris abadi
Kadang-kadang makan pun Cuma sekali sehari

Ketika kulayangkan pandanganku kedepan
Kulihat tuan rumah yang baik hati itu
Bapak dan ibu itu
Berdiri bersama anak gadisnya
Berbicara amat mesranya
Kubayangkan ayahku almarhum
Mungkin seusia dengan bapak ini
Beliau meninggal ketika umurku setahun
Kubayangkan ibuku almarhumah
Wafat ketika aku kelas enam SD
Mungkin seusia pula dengan ibu itu
Tidak pernah aku merayakan ulang tahununku
Tidak pernah

Semoga sorga firdaus jua
Bagi ibu bapakku
Panas mengembang diatas pipiku
Tak tertahan
Titik airmataku ( Puisi TAUFIQ ISMAIL )


Sunday, May 25, 2003

PAKU
Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memamgil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku? Ya, paku!.
Sang anak heran. Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku dipagar belakang rumah setiap marah. Ajaib!
Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku! Begitu juga dihari kedua, ketiga dan beberapa hari selanjutnya. Tapi tak berlangsung lama. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan begitu banyak paku ke pagar.
Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil. Sianak telah bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas membertauhkan hal itu kepada ayahnya. Sang ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ditancapkannya. Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bangkit dari duduknya dan menunutun sianak melihat pagar dibelakang rumah itu.
“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi, lihatlah lubang-lubang dipagar ini . pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya,” kata si ayah bijak.
Sang ayah sengaja memotong kalimatnya pendek-pendek agar sianak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Sianak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran ayahnya itu.
“Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini dihati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik,” ucap sang ayah lembut namun sarat.
Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.
Teman, saling memaafkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi, berhati-hatilah, teman. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi. Amin. ( ITH )


MEJA KAYU
SUATU ketika ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orang tua ini begitu rapuh dan sering bergerak tak menentu. Penglihatanya kabur, cara berjalanya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama diruang makan. Namun . si orang tau pikun itu sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh kebawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak anak dan menantunya pun gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua itu.
“kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.”
Lalu , suami-istri itu membuat sebuah meja kecil di susut ruangan. Disana sang kakek akan duduk untuk makan sendirian saat semuanya menyantap makana. Mereka juga memberi mangkuk kayu kepada si kakek.
Acapkali keluarga itu makan malam, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari mulut si suami-istri itu adalah omelan agar si kakek tidak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi dan merekam semua peristiwa itu dalam diam. Suatu malam sebelum tidur suami- istri itu mendapati anak mereka sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut mereka menyapa anak itu. “Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu untuk ayah dan ibu. Saatku besar nanti akan kuletakkan disudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaanya.
Jawaban itu membuat suami-istri itu terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Airmata bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, keduanya mengerti ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat piringnya yabg jatuh atau makanan tumpah menodai taplak meja. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Teman , anak-anak dalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan mereka saat dewasa kelak.
Orang tua yang bijak akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar bahwa berbuat baik pada orang lain adalah sama halnya dengan tabungan masa depan. ( ITH )

This page is powered by Blogger. Isn't yours?